I'm back...

Subhanallah...lama sekali saya gak mengurus blog ini. Pantes aja daftar pengunjungnya juga gak nambah. yang blog walking juga kayaknya gak ada. Blog ini kan ibaratnya rumah ya. Harus ada tuan rumahnya. Saat ada tamu berkunjung, semestinya kita menyambutnya dengan baik. Tapiiii...ya itu...la wong tuan rumahnya juga menghilang entah kemana yaaa...hehehehe...

Banyak sekali cerita yang terlewatkan tanpa tercatat di sini. Moment kehadiran putri cantikku Shira, moment kenaikan level Senior Manager, dan berbagai moment lain yang membuat hidupku menjadi lebih berwarna.

Yang paling utama adalah kehadiran putri keduaku




NAKAYA LASHIRAH MULYADI yang lahir pada 25 Februari 2011 dengan berat 3,8 kg dan panjang 50 cm. ebih besar dan lebih panjang dari kakaknya, NAKAMI DHABITAH MULYADI. Ya, Shira dan Nammy tentu saja dua pribadi yang berbeda. Sebagai orang tua, saya gak mau membanding-bandingkan keduanya. Saya percaya tiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Saya hanya berdoa semoga kedua putri saya bisa tumbuh menjadi anak yang shalehah, cerdas, dan juga rajin, serta selalu sayang pada kedua orang tuanya dan juga sesama. Aaammiinnn...

Sebelum Shira lahir, tepatnya saat tau saya hamil, rasanya keinginan untuk resign dari Trans TV besaaaarrr sekali. Ya, saya ingin sekali punya banyak waktu untuk melihat anak-anak saya tumbuh dan berkembang. That's why saya memilih untuk terus menekuni oriflame, karena saya mau punya waktu yang lebih banyak untuk mereka tanpa saya harus kehilangan semua hal yang saya dapatkan selama saya bekerja di Trans TV. GAJI - KEHIDUPAN SOSIAL - HARGA DIRI

Ya, ketiga hal itulah yang ingin tetap saya pertahankan kalaupun nanti tiba saatnya saya resign dari Trans TV. Saya ingin tetap punya gaji setidaknya setara dengan gaji saya di Trans TV. Saya ingin tetap punya kehidupan sosial bersama teman-teman saya, yang tentu saja bisa saya dapatkan bersama downline-downline saya tercinta. Dan terakhir tetap punya Harga diri di mata suami. Saya punya prinsip tidak mau menggantungkan diri sepenuhnya kepada suami. Banyak hal yang bisa saya jadikan pengalaman di sekitar saya bahwa saat seorang istri hanya menggantungkan hidupnya pada suami, suatu saat suaminya pergi-entah meninggal dunia ataupun meninggalkan tanpa alasan yang jelas, sang istri kehilangan pegangan. Jika suaminya meninggal dunia, ia akan terpuruk karena tak tahu harus melakukan apa. Ia terbiasa hanya menerima penghasilan suaminya tanpa tahu bagaimana caranya menghasilkan. Dan jika sang istri dikhianati suami, ia cenderung akan pasrah karena jika ia melepas suaminya, ia pun tak punya pegangan apa-apa, sehingga hidupnya menjadi merana karena pasrah dengan kelakukan gila suaminya. Andaikan ia punya penghasilan sendiri, pasti ia tak akan takut melepaskan suaminya yang kurang ajar itu.

Hmmmm...saya bukan mau mengajarkan para istri untuk melawan suami ya. Bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin mengajak para istri untuk tetap hidup mandiri meski suami sudah menyediakan segala kebutuhan kita. Nasib manusia siapa yang tau, kan? Setidaknya, saat badai itu menerjang, kita para istri sudah siap menghalau badai itu dan tetap tegar berdiri sendiri sekaligus melindungi anak-anak kita. Aammmiinnn...

Komentar

Postingan Populer