Catatan Di balik Bokong Sapi

Semangat pagiiiii....

Sambil menunggu calon pembeli sapi qurban di lapak suami di UI, kayaknya lebihh baik menyapa teman- teman dulu niyyyy....

Apa kabar semuanya? Insya allah sehat semuanya ya.
...

Hari ini saya sudah nongkrong di lapak dari jam 6 pagi, karena berpikir ini hari minggu mungkin lapak akan lebih ramai dari hari kemarin.

Papa saya nanya, kamu ngapain pagi banget udah nongkrong di sana?

Saya bilang ke beliau gini "Pa, rejeki itu datang tanpa kita tau kapan datangnya, kan? Nah, coba bayangkan kalau ternyata ada pembeli datang mau borong sapi sementara saya gak ada di sana, rejekinya lepas donk"

Kata si Papa "Ya kalau begitu berarti belum rejeki kamu"

Saya bilang lagi "bagaimana bisa jadi rejeki Eka kalau Eka sendiri belum berusaha datang lebih pagi? "

Ya, mungkin Papa saya memang terbilang orang yang santai dalam menghadapi segala hal. Ibaratnya dia gak mau ngoyo dengan kehidupannya. Memang alhamdulillah Papa berhasil menyekolahkan saya hingga sarjana dan kamipun tidak pernah terlalu kekurangan. Cukup lah untuk sekolah dan makan sehari-hari. Tapi mungkin untuk kebutuhan sekunder seperti liburan dan lain2 mungkin tidak terpikirkan oleh Beliau.

Pertama kali saya naik pesawat terbang itu adalah ketika saya bekerja dan ditugaskan ke Lombok. waktu itu usia saya 22 tahun. Bayangkan umur 22 tahun baru ngerasain yang namanya pesawat terbang. Wuihhhhh...senangdan noraknya bukan kepalang. Dan sejak itu saya berpikir ternyata memang enak ya kalau kita bisa memenuhi kebutuhan2 sekunder seperti itu.

Jadi sejak itu, saya punya frame of mind baru yang sangat berbeda dengan papa saya. Saya bekerja lebih giat supaya saya tak hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok saya dan anak2 saja tapi juga kebutuhan sekunder lainnya.

Alhamdulillah anak saya sudah ngerasain naik pesawat terrbang bahkan saat meka belum ngerti alias masih bayi. Bahkan mereka juga udah tau yang namanya luar negri itu sejak masih kecil. Si adek bahkan umur 8 bulan udh trip singapur-malaysia liburan keluarga.

Apalagi sejak menikah, kebetulan dapat hubby yang punya visi jauh ke depan. Jadilah saya ditempa untuk bekerja dengan passing yang lebih cepat dan berpikir jauh ke depan. Untuk soal bekerja dengan cepat, mungkin saya bisa cepat beradaptasi tapi untuk berpikir jauh ke depan, saya masih perlu belajar lagi karena sebelumnya saya tidak terbiasa. Tapi saya yakin, saya pasti bisa. Sekarang saya mau memanfaatkan waktu muda saya dengan bekerja keras dan cerdas supaya di hari tua nanti, saya dan suami bisa menikmati hasilnya.

Ya, intinya adalah kita harus mencambuk diri sendiri dulu jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal. Karena keberhasilan seseorang itu bukanlah pemberian dari Tuhan melainkan usaha yang harus kita lakukan.

#catatan di balik bokong-bokong sapi#


Komentar

Postingan Populer