Catatan Doa Nenek Tercinta

"Kapan lah Eka pacak batak mobil cak itu" (kapan ya Eka bisa bawa mobil kayak gitu-red)... Itulah satu ucapan almarhumah nenekku tercinta saat aku masih kuliah dulu. Sambil nonton sinetron yang menggambarkan seorang perempuan muda menyetir mobil BMW. Saya cuma bisa bilang ke Nenek " Nenek doaka Eka mangke pacak cak itu ya..." (nenek doakan Eka supaya Eka bisa kayak gitu yaa-red)

Ups!! Ini mata kok tiba-tiba basah ya ingat obrolan kecil itu...

Ya, percakapan ringan saya dengan almarhumah nenek saya tercinta, belasan tahun silam itu memang benar-benar sangat terasa menyentuh bagi saya. Kenapa? Karena saya bukanlah berasal dari keluarga berada. Papa saya hanyalah seorang prajurit marinir biasa yang juga merangkap sebagai security dan Mama saya juga berjuang melakukan pekerjaan apa saja hingga akhirnya memutuskan mengasah ketrampilan di bidang salon. Kami tidak pernah punya mobil. Bagi kami saat itu, punya mobil rasanya jauh sekali dari kenyataan. 13 tahun saya menjadi anak tunggal, namun selama saya kecil hingga kuliah, rumah kami yang mungil tidak pernah sepi. Ada saja keluarga Papa atau Mama dari Lahat, Sumatera Selatan (kampung asal Papa Mama) yang ikut berteduh di gubuk kami. Mulai dari adik kandung papa, keponakan mama dan papa, adik-adik sepupu, hingga saudara yang hubungannya jauhhhhh sekalipun. Mereka yang datang ke Jakarta untuk sekolah, kuliah, ataupun mencari pekerjaan selalu saja berlabuh di rumah kami. Bahkan tak terhitung berapa banyak orang yang sudah dinikahkan, juga oleh Papa Mama. Mungkin itulah ladang amal mereka yang akhirnya kini saya yang menuai hasilnya.

Awal tahun 2004, 1,5 tahun setelah menikah, akhirnya sayapun merasakan memiliki mobil. Ya, Mobil saya dan suami. Hasil kerja keras kami berdua. Merknya Toyota Great Corolla tahun 1995. Itulah mobil pertama kami. Ngambilnya jauhhhhhh sekali. Seorang teman kakak ipar saya menjual mobil itu dengan harga bersahabat, tapi kami harus mengambilnya ke Magelang. Demi punya mobil...berangkatlah saya dan suami ke Magelang untuk mengambil mobil itu. Huaaaaa....tak terkira noraknya saya saking senangnya bisa punya mobil sendiri. Tapi saat itu obrolan dengan almarhumah nenek belum masuk ke dalam ingatan saya. Saya masih duduk di kursi penumpang mendampingi suami.

Tahun 2006, saat anak pertama saya mulai sekolah pre-kindy di Kemang, Jakarta Selatan, saya pun mulai belajar menyetir agar bisa mengantar dia sekolah. Rumah saya di Tanah Baru, Depok ke Kemang cukup jauh. Kalau tidak macet cukup setengah jam saja, tapi kalau macet bisa sampai sejam. Waktu itu Great Corolla sudah berganti menjadi Suzuki Escudo. Mobil second tapi tahunnya ljauh lebih muda. Pertama kali bawa ke kantor di Tendean, suami wanti-wanti jangan parkir di basement, tapi saya bandel. Saya pikir masak iya saya gak bisa sih parkir di basement. Dengan PD, saya pun langsung menuju basement dan parkir mundur.

Sreeeeettttttt...gubrak!!! Waduhhhh...mampus nih gw!! Begitu pikir saya. Pintu kiri mobil langsung sukses menyerempet tiang beton. Huaaaaaa....begini ternyata kalau gak nurut kata suami. Heheheheee...

Karena khawatir dengan cara menyetir istrinya yang sradak sruduk, akhirnya suami saya membeli sebuah mobil lain yang tampilannya sangat tangguh. TAFT GT yang sudah dimodifikasi dengan ban besar dan tanduk besi di bagian depan. Mobil itu kami panggil si KUTU LUMPUR, karena memang itu adalah mobil offroad. Waktu beli itu, dia bilang dia yang akan pakai itu dan saya pakai escudo, tapi ternyata akhirnya saya yang kebagian mobil itu. Mungkin dia pikir kasian kalau itu mobil dipake istrinya ini, mobil itu bisa melindungi dirinya sendiri kali ya...Hihihiiiiiii...

Nah, waktu pake escudo dan Kutu Lumpur itu, saya juga masih belum inget obrolan sama nenek. Soalnya masih sibuk mikir bagaimana caranya supaya nyetirnya bisa mahir. Thanks to Mak Aditya Wardani dan suaminya yang baik hati, Toto...yang udah rela ngajarin saya memperlancar nyetir sekaligus menjadi penumpang pertama yang saya bawa ajrut2an menjajal si Kutu Lumpur sambil nungguin Nammy & Kia sekolah... heheheee...

Alhamdulillah sejak itu kehidupan saya dan suami terus membaik. Bahkan pernah dalam satu waktu kami memiliki 5 mobil sekaligus. Honda Jazz, Kijang Innova, 2 pick up untuk usaha, dan satu lagi saya lupa. Itupun kebetulan ada orang butuh uang dan menawarkan mobilnya dengan harga murah. Tapi memang usia mobil kami tidak pernah lama, karena suami lebih suka investasi di property. Jadi kalau nemu tanah murah, pastilah mobil-mobil itu yang dikorbankan. Maklum lah kami benar-benar berjuang sendiri tanpa bantuan modal dari siapapun.

Sampai suatu hari, untuk pertama kalinya, kamipun membeli mobil baru, hasil jalan-jalan di PRJ tahun 2011. Pajero Sport Exceed. Saat saya mengemudikan mobil itulah, saya tiba-tiba teringat obrolan ringan dengan almarhumah Nenek. Sambil menyetir, air mata saya tumpah ruah. Dalam hati saya berkata "Nek...ini doa nenek buat Eka. Sekarang Eka udah bisa duduk di balik kemudi. Memang belum mobil BMW, tapi Eka yakin suatu hari nanti Eka pasti bisa punya BMW dan Eka akan seperti perempuan yang nenek lihat di sinetron waktu itu."

Artinya, ada satu mimpi yang harus aku wujudkan sebagai persembahanku buat Nenek. Aku Harus punya BMW. Salah satu cara untuk bisa punya BMW adalah mengerjakan ORIFLAMEku dengan lebih fokus hingga mencapai level Executive Director dan dapat BMW Gratis. Tapiiii...kalau nanti punya BMW, Eka nyetirnya cuma sesekali aja ya, Nek...karena Eka harus udah mampu bayar supir saat masa itu tiba. Aamminnn...

I Miss U, Nek...Semoga nenek tenang dan bahagia di sisi-Nya...

Komentar

Postingan Populer