4 Years Ago...

           
25 Februari 2011

Scene : Hospital Cinere

"Ibu, saya gak berani melakukan persalinan normal kepada ibu. Tekanan darah ibu terus meningkat, jadi saya tidak ingin mengambil resiko. Siap-siap kita lakukan persalinan caesar ya, bu...."

Dunia serasa mau runtuh, saat dokter Waluyo Turatmo memutuskan saya harus dicaesar. Saya takut sekali membayangkan meja operasi dan sakitnya pasca caesar. Namun suami menguatkan saya dan membesarkan hati saya bahwa saya pasti akan baik-baik saja. Padahal sehari sebelumnya saya sudah menjalani induksi namun tidak mempan. Sama seperti pengalaman anak pertama dulu yang perlu induksi hingga 3 botol sampai akhirnya saya merasa mulas dan melahirkan secara normal. Namun kali ini, karena tekanan darah naik, saya dinyatakan tidak bisa melahirkan secara normal.

Setelah mewek dan perasaan takut hilang berganti dengan pasrah kepada Allah, akhirnya saya pun memasuki ruang operasi sendirian. Dokter anestesi menyuntik punggung saya hingga akhirnya team dokter bedah mengerjakan tugas mereka. Mata saya tidak terpejam, saya melihat apa yang mereka kerjakan, namun saya tidak merasakan apapun di bagian tubuh saya, hingga akhirnya saya mendengar suara tangis buah hati saya dan sempat memeluknya sejenak hingga akhirnya saya tak sadarkan diri. Selamat datang, Shira...cahaya hati ayah dan bunda.

Masuk ke kamar pasca operasi, saya dipertemukan lagi dengan Shira. Tapi ribuan pertanyaan berkecamuk di kepala saya akrena saya merasa ada yang berbeda dengan raut wajah Shira. Pipinya sangat tebal dan matanya sangat sipit, berbeda dengan ayuknya saat dilahirkan. Namun kekhawatiran saya dijawab baik-baik saja oleh Dokter Waluyo maupun dokter anak yang menangani Shira.

"Dok, kok wajah anak saya berbeda ya? Anak saya gak ada kelainan apa-apa kah?"
"Gak papa kok, Bu...Semuanya normal. Bagus"

Alhamdulillah, semua dokter mengatakan Shira baik-baik saja.

Time flies....Shira tumbuh normal. Tengkurap, merangkak, duduk, berdiri rambatan. Tak ada yang mengkhawatirkan hingga akhirnya di usia menjelang 1 tahun, saat tubuhnya demam 38 degree, tiba-tiba dia kejang. Sayapun panik dan lekas membawanya ke UGD RS Graha Permata Ibu yang terdekat dengan rumah. Dokter pun memeriksa dan katanya Shira hanya mengalami kejang demam biasa. Dan dokter hanya menangani demamnya saja agar turun. 4 hari dirawat, Shira pun berulang.


Juli 2012

Pulang dari bertugas ke Eropa selama 21 hari hari, suami laporan kalau shira sempat dirawat karena demam lagi. Namun tanpa kejang. Katanya ada bakteri di tubuhnya. Syukurlah kalau sudah diatasi, begitu pikir saya. Namun tak lama setelah itu, shira kembali mengalami flu dan batuk dan saya lihat nafasnya saat tidur seperti orang ahbis berlari. Tersengal-sengal. Akhirnya, karena putus asa dengan sejumlah dokter yang selalu menyimpulkan penyakit biasa, sementara hati saya merasa ada yang tidak biasa pada Shira, saya menemui seorang dokter di Markas Sehat. Kabar yang saya dengar, dokter-dokter di Klinik ini adalah dokter-dokter yang terbaik.

Lalu bertemulah saya dengan Dokter Apin (saya lupa nama panjangnya. Beliau juga praktek di RSUD Pasar Rebo). Saat itu saya memeriksakan Shira karena batuk pileknya yang tak kunjung reda. Saat diperiksa, Dokter Apin bolak balik melihat wajah Shira hingga membuat suami saya heran dan akhirnya bertanya.

"Dok, kok kayaknya ngeliatin anak saya aneh begitu. Kenapa, Dok?"
"Maaf, Pak, Bu...menurut ibu, anak bapak ibu ini mirip siapa?"
"Kata orang sih mirip saya, dok." Begitu kata saya.
"Masak sih, bu? Coba perhatikan lagi. Saya justru tidak melihat kemiripannya dengan bapak ataupun ibu. Saya merasa, mohon maaf, anak bapak dan ibu mengalami sindrom sesuatu."

DeggggG!! Bak dihantam petir, saya dan suami mendengar pernyataan Dokter Apin.

"Sindrom apa, dok? Down Syndrome?" tanya suami saya
"Gak mungkin lah, Yah...Wajahnya gak kayak anak down sindrome, kok." Saya berusaha menyangkal
"Saya tidak bisa memastikan, Pak. Kalau bapak mau yakin, coba saja cek kromosomnya."
"Baik, kalau begitu, Dok. Terima kasih sarannya."

Pulang dari Klinik, saya dan suami berdiskusi dan kamipun memutuskan untuk segera melakukan cek kromosom di lab biologi UI di salemba. Selain itu, saya juga bertekad ingin memeriksakan kondisi syaraf Shira, karena selama ini shira seolah kurang tertarik dengan lingkungan sekitarnya. Akhirnya, saya memutuskan harus ke RSCM dan mencari dokter terbaik disana. Dan sayapun bertemu dengan Dr. Widodo. Dan sang dokter memberikan resep sirup bernama Neurotam. Saat itu, saya sekaligus menanyakan kenapa di dada Shira ada tulang yang menonjol sebesar kelereng. Saya pun meminta dokter melakukan rontgen terhadap Shira. Hasilnya??? Petir kedua menyambar. Shira menderita Jantung Bocor ASD (atrial septal defect ) yang sudh cukup besar. Ya Allahhhhh...kenapa selama ini tak satupun dokter yang bisa mendiagnosa semua kelainan kelainan ini? Semua dokter mengatakan anak saya baik-baik saja. Tapi ternyata hati saya yang benar. Sayangnya saya sedikit terlambat mengikuti kata hati saya, bahwa ada yang lain dari diri Shira.

Langkah berikutnya, saya pun langsung menemui Dokter spesialis jantung anak di RSCM, Dokter Najib Advani. Shira pun menjalani serangkaian tes jantung yang hasilnya positif memang ada kebocoran di jantungnya. Kamipun berkonsultasi, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. Kata dokter Najib, jalan satu-satunya Shira harus dioperasi. Tubuh saya lemas sekali saat itu. Tapi saya berusaha kuat. Saya tidak boleh lemah, karena Shira membutuhkan saya. Ok, akhirnya saya dan suami sepakat, Shira harus dioperasi segera dan kamipun mendaftarkan Shira untuk operasi. Namun, kami harus menunggu karena masih banyak antrian lain di depan kami.

Sambil menunggu, saya browsing mengenai kbocaoran jantung pada anak. Ada secercah harapan, katanya jantung bocor ada yang tidak perlu dioperasi. Ada yang bisa menutup sendiri seiring dengan pertambahan usianya. Dan ada juga teknologi menambal jantung bocor tanpa harus melalui operasi. Namanya ASO (Amplatzer Septal Occluder). Jadi pasien tidak perlu dibedah, melainkan hanya dimasukkan alat melalui kateter yang dipasang pada pembuluh darah arteri dan vena di sela paha (arteri dan vena femoral). Saya pun kemudian menanyakan hal ini kepada dokter Najib. Namun, kata dokter Najib, Shira tidak bisa menjalani operasi tersebut karena... saya lupa alasannya, tapi menurut saya saat itu alasannya tidak masuk akal.

Akhirnya saya berusaha mencari second opinion dan pilihan saya bukan RS di Jakarta, tapi di Penang, Malaysia, yang kabarnya biayanya lebih murah dan dokternya juga lebih bagus. Setelah browsing sana sini, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada RS Loh Guan Lye. Dan saya berjumpa Dokter Koh Ghee Tiong. Namun, saya kecewa. ternyata kesimpulan dokter Ghee sama. Shira tidak bisa menjalani ASO karena kebocorannya terlalu besar, sementara alat yang ada tidak ada yang sesuai dengan diameter kebocorannya. Jika dipaksakan, yang ada alat itu akan menutup seluruh jantung Shira. Alasan yang ini langsung bisa saya terima dan akhirnya saya pun pasrah. Jalan satu-satunya hanya operasi. Dan kamipun memilih tetap menjalani operasi di RSCM, dengan pertimbangan biaya dan tenaga.

Kembali melapor ke RSCM, Shira ternyata harus mengantri kembali. Dan yang bikin shock lagi, biaya operasi naik 50%. Masya Allah....Dari yang awalnya Rp. 50juta langsung naik menjadi Rp. 75juta. Tapi, karena merasa tak punya pilihan, kamipun menyanggupi biaya tersebut.

Sementara itu, saya juga mengecek hasil lab Shira dan ternyata Shira memang mengalami Trisomy 21 alias Down Syndrome, tapi jika anak DS itu total kromosomnya 47, Kromosom Shira sama seperti orang normal, yaitu 46, karena kromosom ke -22 hanya 1 buah, tidak sepasang. Dari Dokter ahli genetika yang saya tunjukkan hasil labnya, prediksi dokter adalah Shira tidak memiliki wajah khas seperti anak down sindrome pada umumnya, bisa jadi disebabkan oleh dia memiliki sebuah gen yang sangat pintar, sehingga gen itu yang sedikit membantunya. Tapi, kata dokter, itu hanya analisa saja dan tidak bisa dibuktikan. Jalan yang terbaik adalah memberikan stimulasi yang banyak kepadanya dan salah satunya adalah dengan mengikuti terapi-terapi. Dan syukurnya, saya merasa sejak Shira meminum sirup Neurotam yang diresepkan Dr. Widodo, perkembangan Shira sangat pesat. Otaknya bertambah cerdas dan dia makin peduli dengan sekelilingnya. SHira juga menjalani MRI yang hasilnya otak depan shira lebih kecil dari ukuran otak anak normal dan bisa jadi itu yang menghambat tumbuh kembangnya.

7 November 2012

Scene : RSCM

Sehari sebelum operasi, Shira masuk kamar rawat inap. Sungguh tidak tega saya membayangkan tubuh mungilnya akan naik ke atas meja operasi. Ya Allah...berikanlah kekuatan pada Shira. Saya hanya pasrah pada kuasaNya dan saya yakin ini adalah jalan yang terbaik untuk Malaikat kecilku itu. ALhamdulillah Shira sama sekali tidak rewel. Saat dokter memeriksa jantungnya, ia juga tidak memberontak.

8 November 2012

Saatnya tiba. Jam 5 pagi, saya sudah bersiap-siap mengantarkan Shira menuju ruang operasi. Tidak ada siapapun selain saya. Si ayah belum datang, mama papa juga belum datang. Dokter tidak bisa menunggu. Saya pun naik ke kursi roda sambil memeluk shira dan terus membacakan doa doa untuknya. Sampai di depan pintu ruang operasi, saya tidak bisa ikut masuk. Saya harus rela melepaskan Shira bersama para perawat yang membawanya masuk ke ruang operasi. Air mata mengalir tak henti melepasnya. Tidak ada tempat saya menyandarkan diri saat Shira dibawa pergi. Hanya Allah tempat bersandar saya saat itu. Untungnya tak lama kemudian, tante saya datang dan menghibur saya hingga akhirnya mama papa dan suami saya datang. Tak terasa, 6 jam berlalu dan saya pun mendapat telfon dari ruang operasi yang mengabarkan operasinya telah berlangsung lancar. Alhamdulillahhhh....Terima kasih ya, Allah. Meski sudah selesai operasi, saya belum bisa memeluk Shira. Dia masih harus menjalani perawatan di ruang ICCU atau apa ya istilahnya...saya lupa. Saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Dan yang melegakan hati saya adalah, dia terlihat begitu kuat dan tabah. Tidak sedikitpun dia merengek rewel. Bahkan saat makanan diperbolehkan masuk ke tubuhnya, dia juga tetap terlihat tidak rewel. Alhamdulillahhh...alhamdulillahhh..terima aksih, Nak. Kamu mengajarkan arti ketabahan dan kekuatan pada Bunda.Hari itu, Shira tidur sendirian di ruang ICCU sementara saya kembali ke hotel yang disediakan oleh seorang sahabat baik saya sejak SMA. Thank you ya, Andri Ferdian...

9 November 2012

Shira diperbolehkan keluar ruang ICCU. dan menempati kamar transisi. Di kamar ini ada banyak anak lain yang juga mengalami nasib sama dengan shira. Ya Allah, lagi-lagi saya bersyukur. Shira sangat tegar. Dia tidak merepotkan dan tidak rewel meski menahan sakit.

Tak lama di ruangan transisi ini, Shira dinyatakan siap masuk kembali ke kamar perawatan biasa. Lagi-lagi saya dikejutkan oleh tingkahnya. Bukannya duduk diam, dia malah asyik naik turun kursi yang ada di kamar sambil menonton kartun kesukaannya dari ipad saya. Subhanallah...hebatnya kamu, Nak...tidak tampak sedikitpun rasa sakit yang kamu rasakan. Atau mungkin kamu berusaha mengalihkan rasa sakitmu dengan hal-hal yang menyenangkan? Alhamdulillahh :)

11 November 2012
Pulang ke rumah dan kata dokter Jantung Shira akan kembali normal. Shira hanya perlu periksa jantung minimal 6 bulan sekali atau setahun sekali.

Ya, sejak menjalani operasi jantung, alhamdulillah Shira makin sehat. Masalah berikutnya adalah kejang demam yang sudah dia alami sebanyak 4x dalam 4 tahun kehidupannya. Karena itu sekarang, saya hanya selalu berusaha menjaganya agar tidak mengalami panas tinggi. Kalau dulu saya sok sokan gak mau kasih obat kalau anak demam, cukup dikompres dan dipeluk, sekarang saya tidak berani. ketika suhunya sudha mencapai 38, saya pasti langsung berikan obat penurun panas. Dan kini Shira juga terus menjalani terapi wicara, fisioterapi dan terapi sensori integrasi di RS Hermina Depok. Insyaa Allah dengan kekuatan yang ada pada dirinya, Shira akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sehat seperti ayuknya.

25 Februari 2015

Hari ini genap 4 tahun usiamu, Nak. Alhamdulillah di bulan Desember lalu, kamu sudah bisa berjalan sendiri. Sekarang, kami menanti keluarnya kata-kata yang berarti dari mulutmu. Tidak mengapa kamu berbeda dengan anak-anak lain. Tapi kamu memiliki kelebihan lain yang mampu membuat suasana di sekelilingmu menjadi teduh. Kamu mampu mendamaikan hati bunda kala bunda sedih, menenangkan hati ayah kala ayah emosi. Meskipun kamu sering merasa cemburu sama ayuk, terutama saat Bunda memeluk ayuk, dan kamu akhirnya berusaha memukul ayuk, tapi kemudian kamu pun berusaha mengambil hati ayukmu hingga akhirnya kalian berpelukan dalam damai.

Selamat tambah usia anakku sayang. Teruslah menyinari hari-hari kami dan teruslah kamu berdiri di atas kakimu sendiri, karena kamu adalah anak yang luar biasa.

I love you Shira from the moon and back.

Komentar

Postingan Populer