Sujud Syukur

3 hari terakhir ini, rasanya begitu luar biasa dalam hidup saya. Saya kembali merasakan nyaris kehilangan nyawa Shira, putri bungsu saya, dan juga nyawa saya sendiri. Alhamdulillah, Allah SWT masih berkenan memberikan kesempatan kepada saya untuk melihat senyuman Shira sekaligus memeluk Nammy, putri sulung saya.

Kamis, 20 Agustus 2015, saya baru saja pulang ke rumah pagi hari sekitar jam 6, setelah bertugas di Reportase Pagi semalaman. Sampai rumah, saya lihat Shira sedang duduk sendiri di depan TV dengan pakaian rapi karena dia akan pergi sekolah. Si Ayuk atau Kakak panggilan dalam bahasa Palembang, lagi siap2 juga mau berangkat sekolah. Si Ayah yang mau anter Shira sekolah pun lagi sibuk siap2, sementara si Mbak juga sibuk nyiapin sarapan. Karena itu, saya pun mendekati Shira dan saya pegang tubuhnya. PANAS. Wahhhh...gak boleh sekolah ini sih kalau udah begini. Akhirnya saya bilang ke si Ayah kalau Shira gak usah sekolah. Akhirnya Si Ayah nganter Ayuk ke sekolah. Setelah mereka berangkat, saya ajak Shira ke kamar untuk tidur, karena saya lihat dia seperti mengantuk. Begitu pula dengan Saya, yang juga mengantuk karena belum tidur semalaman.

Akhirnya, berbaringlah kami berdua dan saya bacakan shalawat seperti biasa setiap kali menidurkannya, sambil mata saya terpejam perlahan-lahan. Namun ternyata saya lengah....saya tidak sempat mengukur suhu tubuhnya sehingga tidak sadar kalau suhunya sudah mencapai 38 derajat celcius. Akibatnya, tubuhnya tiba-tiba kejang...dan untungnya mata saya belum sempat benar-benar terpejam sehingga langsung melihat ketika tubuhnya mengejang. Sayapun berteriak memanggil Mbak dan memintanya mengambil stesolid di kulkas. Saya pegang tubuh shira dan si mbak yang memasukkan stesolid ke duburnya. Namun, usaha itu tidak berhasil. Shira terus kejang dan saya pun tidak ingin mengambil resiko. Saya smabar mukena dan kunci mobil sambil tetap menggendong Shira masuk ke mobil dan berusaha menahan mulutnya agar tetap terbuka dengan jari saya. Si Mbak mengunci rumah dan pagar dengan tergopoh2 hingga akhirnya dia masuk mobil dan mengambil Shira dari gendongan saya. Di perjalanan, Kami terus berteriak memanggil namanya dan menjaganya agar tetap sadar. Hingga akhirnya, matanya menutup dan saya semakin panik, apalagi jalanan macet. Beruntung saat saya klakson mobil, pengendara di depan saya mungkin melihat kepanikan saya, dan akhirnya memberikan jalan. Syukurnya ada Rumah sakit dekat rumah dan itu memang RS langganan saya kalau Shira kejang seperti ini. Ini kali ke-4 Shira dirawat karena kejang. Dan saya tetap tidak siap setiap kali itu terjadi padanya. Saya hanya tidak ingin menyesal, jika gagal menanganinya di rumah, makanya saya selalu membawanya ke RS kalau kejang.

Alhamdulillah, setibanya di Ruang UGD RS Grha Permata Ibu,dan dia masih dalam keadaan terpejam, saya hanya bisa berbisik padanya. "Shira...kasih bunda kesempatan ya, Nak. Bunda akan menjadi bunda yang terbaik buat Shira. Bunda akan mengurus Shira dengan baik supaya Shira tidak mengalami hal ini lagi." Tiba-tiba matanya membuka dan memandang saya. Huaaaaaa.....betapa berdosanya bunda sama kamu, Nakkkk....Terima kasih sudah memberikan bunda kesempatan ini. Insyaa Allah, kamu akan tumbuh sehat seperti ayuk nammy ya, Sayankkk....

Keesokan harinya, Shira masih dirawat karena infeksi bakteri di tubuhnya, yang menyebabkannya demam. Namun, karena dia tampak baik dan berada dalam pengawasan perawat, saya pamit ke kantor untuk mengurus Clearance Sheet yang belum selesai. Karena ingin cepat dan tidak ingin terjebak macet, sayapun memilih bawa motor sendiri ke kantor. Perjalanan ke kantor Alhamdulillah lancar dan tidak ada kendala apapun. Sayangnya, saat menuju pulang, saya mengalami kecelakaan yang mungkin bisa saja merenggut nyawa saya, jika Allah berkehendak lain. Di jalanan menurun di kawasan Jalan Herman Susilo Ciganjur, sebuah pick up berbelok tepat di sebelah saya. Dan saya yang ingin menghindari terserempet pick up itu, tak sadar mengerem, sedangkan di jalan ternyata ada ceceran oli yang licin. Alhasil, saya berusaha menahan agar motor dan saya tidak terseret masuk ke bawah mobil pick up tersebut. Akibatnya, motor saya jatuhkan dan dengkul kiri saya mencium trotoar.Sementara si pengendara mobil pick up terus melaju. Saya berusaha tetap tenang dan kembali bangun karena tidak merasakan sakit dan saya pikir saya masih kuat membawa motor saya. Namun saya tidak sadar kalau ternyata ban depan motor saya terkunci, mungkin akibat saya mengerem terlalu keras. Akibatnya, saya pun kembali jatuh bersama motor itu. Seorang bapak-bapak yang berhenti di pinggir saat melihat saya jatuh pertama kali, akhirnya datang menolong mengangkat motor saya dan sayapun berjalan ke pinggir jalan. Si bapak itu mengecek kondisi motor saya dan disitulah saya baru tau kalau ban depan motor saya terkunci tidak bisa berputar. Akhirnya si bapak yang baik hati itu menawarkan saya untuk membawa motornya dan dia membawa motor saya. Entah bagaimana caranya, dia bisa mengendarai motor itu dengan perlahan hingga kira2 sejauh 300 meter dari lokasi jatuh tadi. Namun setelah itu, dia menyerah karena motor saya tidak bisa digerakkan. Dan akhirnya dia meminta saya menunggu sementara dia ke bengkel terdekat untuk membawa mekanik bengkel memperbaiki motor saya. Sayangnya saat kembali dia bilang bengkel itu tidak punya kunci kanvas, yang ada hanya kunci inggris kecil yang akhirnya digunakan mengendurkan ban depan. Alhamdulillah akhirnya ban saya pun dapat berputar lagi tapi dia bilang rem depannya blong. Jadi diapun kembali menawarkan membawa motor saya dan saya membawa motornya hingga rumah saya. Kebetulan rumahnya melewati daerah rumah saya katanya.

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di rumah dengan selamat meskipun dengkul lecet sedikit. Dan si bapak baik hati itu tidak berkenan menerima uang terima kasih dari saya.

Ya Allah...nikmat mana lagi yang kudustakan? Engkau telah memberiku begitu banyak nikmat tak terhingga meskipun itu melalui cobaan. Semoga aku akan terus menjadi orang yang bersyukur meski dalam keadaan senang maupun susah. Dan semoga aku juga bisa menyebarkan nikmat syukurku ke orang-orang lain di sekelilingku.

Amminnn Ya Rabbal 'alamin....

#SujudSyukur


Depok, 23 Agustus 2015
Jam 00.54 WIB

Komentar

  1. Ada artikel mengatakan anak itu rata2 bisa demam 20 kali setahun,,,,ini masih normal tak usah terlalu ditakuti apalagi dgn obat2an yg keras.Pengalaman menarik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer