ANAKMU AMANAHMU - MENJADI IBU YANG ALLAH MAU

Assalammualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Tanggal 10 Mei kemarin, saya mengikuti kajian ilmu bersama Ustadzah Halimah Alaydrus. Ini adalah kajian kedua yang saya datangi di majelis beliau. Bulan lalu, saya datang sendiri menghadiri kajian bertajuk BIDADARI BUMI di Menara 165 Jakarta. Dan saya langsung menyukai gaya dakwah ustadzah yang satu ini. Ya, saya yang sudah lama sekali tidak pernah hadir di majelis ilmu, merasa mendapat gulungan tsunami saat hadir di majelis tersebut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali mengikuti kajian beliau kembali. Masih di tempat yang sama, di Menara 165, kali ini mengusung tema Parenting "Anakmu Amanahmu - Menjadi Ibu Yang Allah Mau".

Berada diantara 1300 peserta majelis dan juga para wanita shaleha yang membantu berlangsungnya acara, membuat saya merasa sangatttt kerdil. Ilmu agama saya yang sangat minim, tampaknya menjadi penyebab kenapa kini saya mengalami kesulitan menghadapi anak sulung saya yang sedang memasuki masa remajanya. Banyak hal yang saya tidak pernah tau sebelumnya tentang bagaimana seharusnya mendidik anak secara islam. Ya Allah...ampuni HambaMu. Bantu hamba memperbaiki apa yang selama ini salah. Dan bantu hamba mendidik anak2 hamba menjadi Yang Engkau Mau. Bantu hamba memperbaiki diri sendiri terlebih dulu, agar hamba bisa menjadi contoh yang baik bagi anak2 hamba.

Buat teman2 yang mungkin juga membutuhkan ilmu tentang bagaimana cara mendidik anak bahkan melahirkan anak2 yang Allah Mau, silahkan baca resume kajian kemarin, yang saya ambil dari blog khatta-frekuensi.blogspot.co.id . Semoga bermanfaat.

SESI I
ANAKMU AMANAHMU
“Anak bagi seorang ibu, meski ia terlahir dari rahimnya. Namun ia BUKAN miliknya. Anak itu milik Allah, hambanya Allah.”

Ustadzah memulai dengan membacakan do’a indah dari seorang pintu ilmunya Rosulullah saw, Sayyidina Ali Karomallahu wajhah dalam do’anya:

Allohummaj ‘alnii kamaa turiid, wa laa taj’alnii kamaa uriid
“Ya Allah jadikahlah hamba sebagaimana yang Engkau inginkan, dan jangan jadikan hamba sebagaimana yang hamba inginkan”

Sebagai seorang ibu, tentu kita menginginkan anak yang lahir dari Rahim kita menjadi seperti apa yang kita inginkan. Kita sering lupa bahwa anak kita adalah milik Allah, yang hatinya ada dalam penguasaan Allah. Kita melahirkannya namun tidak kuasa atas arah hatinya. Yang berkuasa hanya Allah. Dzat yang mampu mengarahkan hatinya, pikirannya, dan raganya.

Tentu kita sangat familiar dengan hadits yang menjelaskan bahwa, saat seseorang meninggal akan terputus semua amalnya. Kecuali tiga hal, yakni: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akan kedua orang tuanya. Maksud hadits ini, semua amal si mayit terputus. Tapi, kebaikan dari yang hidup tidak terputus bagi si mayit. Maka, anak akan menjadi salah satu pengirim kebaikan saat kita meninggal nanti. Bila kita berhasil mendidiknya untuk mencintai kebaikan.

Jika jiwa anak ibarat ladang, maka ibu ibarat petani. Apa yang ia tanam (kebaikan/ keburukan) itulah yang akan dituai”

Bagaimana langkah atau usaha kita untuk mendapatkan anak yang sholih dan sholihah? Setiap sesuatu ada caranya bukan?

Masa Sebelum dan Saat Mengandung

Kita memulainya sejak sebelum sang anak ada dalam kandungan dan saat anak itu akhirnya ada dalam Rahim kita. Berikut tata cara atau adab sebelum melakukan hubungan:

1.                Wudhu
2.                Sholat sunnah hajat dua roka’at
3.                Do’a

“Allohumma jannibnasy syaithoona, wajan nibisy syaithoona maa rozaqtanaa”
(Ya Allah jauhkan kami berdua dari syaithan dan jauhkan pula syaithan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami)

‘Kalau lupa berdo’a, ustadzahnya bilang: (maaf) nanti syetannya ikutan saat proses hubungan itu’

4.                Niat (anak ini diharapkan menjadi apa?)

Seorang wanita sholihah istri dari Sayyid Imron yang namanya diabadikan menjadi surat ke tiga dalam al-qur’an yakni sayyidah Hanna telah memberikan contoh niat kepada kita. Saat beliau memohon dianugerahi keturunan, beliau berniat:
 إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥
(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"

Beliau meniatkan anak yang ada dalam kandungan itu, untuk Allah. Kita niatkan anak yang lahir kelak untuk mengabdi kepada Allah, mengambdi kepada Rosul-Nya. :)

Rosulullah saw sangat bangga dengan ummatnya. Beliau bersabda: Menikahlah, menjadi banyaklah, sesungguhnya aku akan membanggakan ummatku pada hari kiamat (HR Abu Daud). Namun, beliau sangat amat sedih. Kala, seorang anak lahir dari hasil perbuatan haram—Zina. Anak itu suci, namun kedua orang tuanya melalui jalan yang haram.

5.                Rizki yang Halal
Imam Sahal Attasattury mengatakan : “Rizki yang halal masuk ke dalam tubuh, maka tubuh itu akan melakukan kebaikan mau ataupun tidak. Rizki yang haram masuk ke dalam tubuh, maka tubuh itu akan melakukan keburukan mau maupun tidak.”

Ustadzahnya ngasih tips untuk bilang ini kepada suami: “suamiku aku rela nggak beli baju bagus, aku rela nggak jalan-jalan (gpp jalan-jalannya keliling RT doang juga), aku rela hidup sederhana, yang penting tolong jangan bawa hasil haram ke rumah ya”

6.                Taqwa
Anak itu akan senang terhadap sesuatu yang orang tuanya perdengarkan kepada sang anak saat masa kehamilan. Jika diperdengarkan yang baik-baik oleh orang tuanya insya Allah sang anak akan mencintai hal itu. Hubabah Nur guru ustadzah pernah ditanya oleh seorang ibu yang sedang hamil. Ia mengeluhkan mood-nya yang labil saat hamil, ibu tersebut meminta nasihat agar mood-nya baik terus. Kemudian oleh Hubabah Nur disarankan untuk membaca surat Yasin setiap pagi. “Siapa yang ingin senang sepanjang hari, maka bacalah surat Yasin di pagi hari.”

Sang ibu mengamalkan hal tersebut, hingga suatu hari kawan-kawan dari suaminya berkunjung ke rumahnya. Sibuk untuk membuat suguhan, sang ibu tidak sempat membaca surat Yasin seperti biasa. Sang anak yang kala itu sudah lahir dan sudah bisa merangkak, mendekati sang ibu di dapur. Tangan kecilnya menarik baju sang ibu. Ia mengucapkan satu kata yang diulang-ulang. Sang ibu mendekatkan telinganya, subhanallah ia mendengar kata pertama yang diucapkan sang anak adalah “Yaa siin”. Sang anak mengucapkan kata itu berkali-kali, meminta sang ibu untuk membaca surat Yasin.

Masa Kelahiran

Ada beberapa sunnah yang sangat baik untuk kita lakukan. Diantaranya:

1.                   Adzan

Rosulullah saw saat mendengar kabar kelahiran sayyid Hasan (cucu) beliau bersegera melantunkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telingan kiri. (H.R Baihaqi) Hadits ini lemah, hanya saja dikuatkan dengan amaliyah yang dilakukan secara turun-menurun oleh keturunan Rosulullah saw dan umat islam.

2.                   Membacakan bacaan-bacaan (dari kitab I’anatut tholibin)

Ø    Surat ali imron ayat 36 dimulai dari kalimat,
إِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦
…..aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk"

Hal ini diajarakan oleh sayyidah Hanna, saat melahirkan sayyidah Maryam ibunda Nabi Isa as. Agar anak kita terjaga dari gangguan setan yang disebut dengan ummu shibyan, setan yang suka bikin anak nangis saat orang tua ibadah, dan anteng saat orang tua melakukan keburukan atau saat sedang menyia-nyiakan waktu.

Ø    Surat al-ikhlash dan surat al-kafirun, agar anak ditetapkan dalam iman dan Islam

Ø    Surat al-Qadr, agar anak terhindar dari perbuatan zina
.
3.          Tahnik, mengunyah kurma yang kemudian dimasukkan kunyahan tersebut bersaamaan air liur ke dalam mulut sang anak. Kalau bisa kurma itu dikunyah oleh orang sholih.

4.             Memberi nama yang baik. Ada dua cara: Tafaul dan tabaruk. Tafaul berarti memberikan nama yang memiliki arti baik (tidak harus berbahasa Arab). Sedangkan Tabaruk berarti mengambil nama seseorang untuk diambil berkahnya. Seperti dari nama Nabi, sahabat Nabi, wanita-wanita sholihah, para tokoh yang baik, dll.

5.              Aqiqah, dua ekor kambing untuk laki-laki, dan satu ekor kambing untuk perempuan. (Jangan Sapi ya…harus kambing, ayam juga jangan…)

6.           Cukur rambut sampai plontos. Kemudian rambut itu ditimbang untuk di setarakan saat membeli emas atau perak untuk disedekahkan nilainya.

Poin 4,5, dan 6 baiknya dilakukan pada hari ke 7 setelah kelahiran.

7.                   Khitan (sunatan). Hukumnya wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan.

SESI II
APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA KEPADA ANAKNYA

1.                Tanamkan Keimanan

a.                Beritahu bahwa mereka adalah hamba Allah

b.               Ajarkan pentingnya berdo’a, tawakkal, dan yakin

c.                Ajarkan cinta kepada Rosulullah saw

Apa yang dibaca, apa yang dikatakan itu adalah proses menanam”

Adakalanya anak sulit sekali untuk menghabiskan makanan. Maka dalam proses itu katakanlah “ nak, makanannya harus dihabiskan. Allah sudah memberikan kita rizki ini, harus kita syukuri”. Tapi, seringnya kita bilang gini “ Habiskan makanannya! Gak tau apa, mamah udah masak capek-capek! Tinggal makan aja susah amat!”.
Suatu hari Anas bin Malik (Budak Rosulullah saw), memecahkan piring. Istri Rosul melihat hal itu berkata “ Yah! Ko kamu pecahin si Nas piringnya..”

Melihat hal tersebut, sambil tersenyum Rosulullah saw berkata “ Gak apa-apa, kalau Allah gak kehendakin pecah, piring itu gak akan pecah.”

Rosulullah saw mengajarkan keimanan pada setiap sudut perilaku dan kejadian.
Dalam kisah lain, ustdzah bercerita tentang Hubabah Bahiyah. Saat hubabah Bahiyah berusia delapan tahun, beliau diajak jalan-jalan oleh ibunya. Sang ibu mengajaknya ke toko baju, namun hubabah kecil tidak mengucapkan permintaan apapun. Lalu sang ibu mengajaknya ke toko mainan, hubabah kecil juga tidak meminta apapun. Sang ibu berpikir, “ko anak ini gak minta apa-apa ya? Apa dia nyangka saya sedang gak ada uang kali ya”

Sang ibu memutuskan untuk mengajaknya ke tempat makan, namun sang anak tetap tidak meminta apa-apa. Kemudian saat tiba di rumah sang ibu bertanya “nak, saat di toko-toko tadi tidak ada yang kamu sukakah? Tidak ada yang ingin dibeli?”

“Ada banyak yang aku suka mah” jawabnya polos

“Kenapa kamu nggak minta dibelikan mamah?

“Mah…bukankah harusnya aku memintanya kepada Allah?”

Sang ibu takjub, bertanya lagi “kemudian, kalau kamu sedang ingin sesuatu. Kamu gimana?”

“Aku minta sama Allah mah, terus ada aja jalan Allah memberikan yang aku inginkan”

Kisah ini, kisah tentang sang pencinta. Pecinta Rosulullah saw.

Abdur Rahman bin Auf saat sebelum perang berdo’a, “ya Allah mudah-mudahan saat perang Badar nanti samping kanan dan kiri saya tentara yang kuat dan gagah”.

Selepas berdo’a, ia dapati samping kanan dan kirinya dua orang pemuda, yang kira-kira umur mereka masih 15 tahun. Pemuda sebelah kiri mencolek Abdurrahman “paman, engkau kenal Abu jahal?”

“iya aku kenal”

“ssstt…jangan kencang-kencang jawabnya paman. Adikku disebelah kirimu. Aku dan dia akan berlomba membunuh Abu Jahal”

“Memangnya kenapa?” Tanya Abdur Rahman penasaran.

“Karena yang kudengar, Abu Jahal adalah orang yang sangat membenci Rosulullah saw.”

Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh adik pemuda tersebut. Abdur Rahman mengira mereka berkata seperti itu mungkin karena mereka belum pernah melihat Abu jahal yang berbadan besar dan seorang ahli perang.

Perang berlangsung sengit. Saat Abdur Rahman melihat Abu Jahal, ia berteriak “Hai pemuda! Itulah Abu Jahal!”

Tak disangka, dengan gagah berani kedua pemuda tersebut menyerang Abu Jahal. Dengan rasa cinta di hati, cinta kepada Rosulullah saw.

2.                   Buat anak dekat dengan Agama

“Apapun profesi sang anak kelak, bila ia memahami agama dengan baik. Insya Allah akan menjadi ibadah yang kebaikannya terus mengalir bagi kedua orang tuanya”.

Suatu hari saat lebaran, Rosulullah saw melihat seorang anak kecil menggalau. Wajahnya sendu, memainkan jemari-jemarinya. Rosulullah saw mendekati anak tersebut, membungkukkan badannya seraya bertanya “nak, mengapa bersedih?”

“Anak-anak lain bahagia, punya baju baru. Sementara aku tidak”

“Ayahmu dimana nak?”

“Ayahku meninggal saat berperang bersama Rosulullah saw” jawab anak itu polos, tidak mengetahui bahwa lelaki yang ada dihadapannya adalah Rosulullah saw.

“Kalau ibumu kemana?”

“Ibu sudah menikah lagi dan tidak pedulikanku”

Rosulullah segera menghampiri cucunya, Hasan. Beliau berkata kepada Hasan “cucuku, maukah kau berikan baju barumu untuk anak yatim disana?” nanti Allah menggantinya dengan yang lebih baik di syurga untukmu.

“Tentu kakek” jawab Hasan tanpa berat hati, sambil melepas pakaian barunya.

Rosulullah saw tidak menjanjikan dengan mengganti dengan baju baru lagi. Tapi, lebih daripada itu. Sang Rosul mengajarkan nilai-nilai agama. Berbuat sesuatu karena ingin dekat dengan sang pencipta.
...

Ajak anak BUKAN suruh anak

“Sebelum apa yang kau lakuakan dapat dicontoh anakmu, benahilah hatimu. Sebab yang eluar dari hati akan sampai ke hati”
“Nak, sholat bareng yuk”
“Nak, belajar sama mamah yuk”

Begitupun saat berdo’a. Ucapkan do’a sekiranya sampai terdengar sang anak. Kita mendoakan orang tua, guru-guru kita. Sehingga sang anak merasakan bagaimana orang tuanya, mencintai orang tua dan guru-guru mereka.

3.                   Bangun kebiasaan baik di rumah

“Nak, kita saling mengingatkan ya. Kalau mamah sedang melakukan kesalahan tolong ingatkan mamah. Begitupun saat kamu melakukan kesalahan, mamah juga akan mengingatkan.”

Sehingga dapat tercipta, suasana dimana saat sang anak melihat kamar ayah dan ibunya. Ia dapati kedua orang tuanya sedang ibadah. Melihat kamar sang kakak, ia dapati sedang belajar. Maka otomatis sang anak menjadi ikut melakukan kebaikan.

4.                   Tunjukkan kasih sayang

Kebaikan bila ditunjukkan dengan cara yang tidak benar maka hanya akan menjadi keburukan”

Misalnya anak kita lelah habis begadang belajar. Kemudian datang waktu shubuh. Karena kasihan terus kita putuskan untuk tidak membangunkannya sholat. Tentu ini kejahatan bukan kasih sayang. Atau kita menyampaikan maksud sayang dengan membentak atau memukul, tentu yang akan sampai kepada anak jadi berbeda.

Rosulullah saw, punya kebiasaan mencium anak-anak beliau hingga dewasa. Beliau tidak marah saat ada anak-anak orang lain yang pipis di pangkuan beliau. Kotoran mudah dibersihkan, tapi saat hati anak tergores karena caci maki akan sulit sekali mengobatinya.

Saat anak tidak mendapati kasih sayang di rumahnya, mereka akan mencarinya di luar.

5.                   Membangun komunikasi dua arah

“Tanyakan pada diri sendiri, sudahkah menjadi ibu yang baik? Atau hanya menjadi penuntut?”

Diskusikan segalanya dengan anak. Tentu pada kapasitasnya. Jika kita berpikiran “ribetlah, kalau diskusi dulu sama anak. Susah!”

Kita harus ingat kisah Nabi Ibrahim as yang harus mendiskusikan kepada Nabi Ismail tentang perintah menyembelih anaknya. Lebih berat mana?

6.                   Contohkan akhlaq yang mulia

Perlakukan suami dengan baik, sehingga sang anak akan menghormati ayah dan suaminya kelak. Perlakukan orang tua dengan baik, sehingga sang anak menghormati orang tuanya. Perlakukan anak dengan baik, sehingga kelak ia akan berlaku baik pada anaknya.

“Selama ini contoh apa yang kita perlihatkan?”

7.                   Pilihkan lingkungan yang baik

Orang tua, guru, teman itu dapat memberikan rasa. Rosulullah saw berpesan : “Carilah lingkungannya dulu, baru rumahnya. Carilah temannya dulu, baru jalan”. Karena “al mar-u ‘alad diini kholiilih” (Agama seseorang tergantung temannya)

8.                   Pelajari psikologi anak

Pelajari termasuk tipe manakah anak-anak kita. Ada yang sukanya disayang dengan kata-kata, sentuhan da nada juga yang senangnya disayang dengan diberi hadiah. Setiap anak berbeda ingin disayangnya. (Kalau saya tipe melow, sama kayak ustadzahnya) hehe

9.                   Do’akan dan titipkanlah anak kita kepada Allah

Kita tak akan mampu menjaga dan membimbing anak kita agar selamat dunia dan akhiratnya. Untuk diri sendiri saja sangat sulit. Untuk itu kita harus minta pertolongan Allah.
Ada seorang sholih ditanya, “wahai syeikh, apa rahasia anak-anak syeikh menjadi baik?”

Sang syeikh bertanya balik “seberapa sering engkau mendokan anakmu?”

“setiap sehabis sholat syeikh”

“Saya mendoakan anak-anak saya setiap kali melihatnya”

Dulu saat ustadzah Halimah mau berangkat sekolah ayahnya selalu meniupkan diubun-ubun beliau sambil membaca do’a “Barokallahu fiik” (Mudah-mudahan Allah memberkahimu). Hingga ustadzah kecil menjadi mudah memahami ilmu.

Ditempat lain, saat ustadzah masih menuntut ilmu di Tarim, Yaman. Beliau dapati angina berhembus besar sekali. Sementara beliau baru saja selesai menjemur semua pakaiannya. Beliau bingung, karena harus berangkat kajian. Mau dijepit dulu baju-bajunya tapi beliau nggak punya jepitan jemuran. Akhirnya beliau sentuh jemuran itu satu persatu sambil berdo’a “ya Allah hamba titip kepada-Mu” lalu pergi kajian.

Angin sore itu berhembus sangat kencang, ustadzah sudah lesu “yah, terbang semua dah”. Saat kembali ke kosan, beliau langsung cek jemuran. Beliau tertegun. Beliau menangis. “ya Allah betapa baiknya Engkau, sampai jemuran pun Engkau jaga”. Jemuran saja dititipkan ke Allah dijaga, apalagi anak?

SESI III
HAL-HAL YANG JANGAN DILAKUKAN

1.                   Berlaku dan berkata kasar terhadap anak

“Abghodur rijaal ilallah alad dul khishoom” (Yang paling Allah benci adalah yang kasar perangai dan pedas dalam berbicara)

Nabi tidak pernah memukul anak. Jangankan anak, bahkan hewan pun tidak pernah beliau pukul.


Ada seorang anak curhat kepada ustadzah. “Ustadzah ayah saya sangat kasar terhadap saya, beliau sering memukul dan menampar saya”

“Nak, kamu akan meniru ayahmu. Kelak kepada anak-anakmu”

“Tidak akan! Saya membenci sikap itu ustadzah”

“Kamu, akan”

“Tidak akan! Saya akan menyayangi anak-anak saya!”

“Kamu akan”

“Kecuali jika kamu memaafkan ayahmu. Kamu tidak pernah tahu apa yang menyebabkan ayahmu bisa bersikap seperti itu. Maafkanlah ayahmu” lanjut ustadzah menjelaskan.

Setelah itu, setiap sang ayah marah. Sang anak hanya menatap dengan sedih. Ia memaafkan ayahnya dan mencoba memahami sebab ayahnya seperti itu. Hingga akhirnya perlahan sang ayah merubah sikapnya menjadi lebih baik.

Putuslah mata rantai kesalahan dalam mendidik dengan memaafkan”

2.                   Jangan Zholim

Adillah kepada anak dalam dua hal, materi dan waktu. Tidak masalah kalau ada kecenderungan lebih mencintai anak yang satu. Tapi berbuat adillah. Rosulullah saw berpesan “it taqillah wa’ diluu fii aulaadi kum” (Takutlah kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu).

3.                   Jangan bandingkan anak

Bagaimana rasanya jika anak kita berkata “mah, mamah ko nggak jadi ibu yang baik kayak mamahnya temenku?” sakit bukan?

4.                   Jangan buat cintamu bersyarat

“Kalau kamu berbuat ini atau itu mamah nggak sayang sama kamu”

Katakanlah
“Kamu anak mamah, hati mamah selalu terbuka untukmu”

5.                   Jangan janji yang tidak akan ditepati

6.                   Jangan ancam anak

7.                   Jangan melarang tanpa alasan

8.                Jangan memberi pemahaman yang salah

Kalau anak bertanya, dan kita tidak bisa menjawabnya. Jawablah dengan jujur, dan cari jawabannya sama-sama.

9.                   Jangan mencaci maki anak

10.               Jangan permalukan anak

11.               JANGAN MENDO’AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK

Do’a orang tua kepada anaknya bagaikan do’a nabi. Baik maupun buruk mustajab (terkabul). Ustadzah bercerita, orang tua di Yaman, kalau marah banget sama anaknya pasti mengucapkan “Allahu yahdik” (mudah-mudahan Allah memberimu petunjuk). Tidak mendo’akan yang buruk-buruk.

Kalau sudah terlanjur terucap bagaimana? Tiban dengan do’a-do’a yang baik. Perbanyak mendo’akan yang baik-baik. Ketahuilah bunda, betapa mencekamnya rasa takut yang ada di dalam hati seorang anak. Mendapati do’a yang buruk dari orang tuanya. Bahkan bisa jadi ia menajadi tidak berani meneruskan kehidupannya.



Amalan do’a yang baik diajarkan kepada anak

1.     Membaca “Bismillahi tawakkaltu ‘allaah laa haula wa laa quwwata illaa billah” setiap hendak keluar rumah.

2.       Istiqomah/ rutin sholat shubuh berjam’ah

3.        Sholawat 10x setiap pagi dan malam

4.         Membaca do’a ini (khusus untuk orang tua yang anaknya sedang ditimpa masalah)

Allahumma innii a’uu dzubika minal Hammi wal hazan. Wa a ‘uudzubika minal ‘ajzi wal kasal. Wa a ‘uudzubika minal jubni wal bukhli. Wa a ‘uudzubika min golabatid daini waqohrir rijaal.
“Ya Allah hamba berlindung kepada Mu dari himpitan dan kesedihan. Hamba berlindung kepada Mu dari sifat lemah dan malas. Hamba berlindung kepada Mu dari rasa takut dan kikir. Hamba berlindung kepada Mu dari belenggu utang dan kejahatan orang”

Do’a ini dibaca 313 x (tidak harus selesai dalam satu hari, boleh dicicil)

Komentar

Postingan Populer